Ironi Sajian Bahari

 

Ironi Sajian Bahari

Sampai kapankah laut nusantara mampu menghidangkan isi perutnya untuk kita?

OLEH SIHAM AFATTA 
FOTO OLEH TOTO SANTIKO BUDI

PAGI ITU, PERAIRAN TERUMBU PULAU TOMIA, SULAWESI TENGGARA, TAMPAK TENANG. LA UDI BARU SAJA MEMATIKAN mesin tempel di ekor perahunya. Cerahnya langit menyibak keelokan gugusan terumbu karang dari permukaan air. Saat itu arus permukaan seakan nihil. Perlahan, La Udi mendayung hingga perahu mencapai penghabisan terumbu tepi yang hilang di kedalaman. Ia tidak merasa perlu membuang sauh.

Dari ember kecil di lambung perahu, La Udi meng­ambil umpan cacahan ikan layang. Dua bong­kah daging dengan lihai segera dia kaitkan pada kail di ujung senar pancing. Umpan dilepasnya, bandul pemberat segera membawa umpan ke kedalaman. Ketika ia merasa pemberat mencapai kedalaman 20 depa (sekitar 30 meter), La Udi menahan senar.

Tangan kanannya membuat tarikan-tarikan pendek, berharap ikan karang ter­pikat umpan. Kurang dari tiga menit, senar pancing seketika menegang dan bergerak melingkar, menciptakan riak-riak kecil di permukaan air. “Ini kerapu,” ujarnya yakin.

Mendapati kerapu, La Udi tidak bergegas me­narik senar layaknya pemancing pada umumnya. Ada jeda setiap dua atau tiga tarikan tangan, “Agar ikan tidak kembung setiba di permukaan, karena ikan yang kembung akan kesakitan atau stress,” katanya kepada saya. Jika masih ada sisa udara di gelembung renang kerapu, La Udi segera menancapkan jarum berongga ke perut ikan itu. Kerapu bertotol yang terus menggeliat itu akhirnya tenang sesaat, dan masuk dalam palka kecil berair laut. Kali ini kerapu tidak boleh mati.

Selama kurang lebih dua jam La Udi mengulang-ulang teknik pancing-ulur ini. Sayang, laut kurang berpihak padanya hari itu. Jelang tengah hari, enam kerapu hidup terkumpul di palka, berukuran sekitar satu setengah hingga dua setengah jengkal tangan orang dewasa. Dirasa cukup, mesin tempel dihidupkan, dan ia pun meluncur ke perairan Desa Lamanggau di Tomia.

Setelah 45 menit perjalanan dari lokasi tangkap, sampailah La Udi di keramba jaring apung tempat tangkapan akan dibeli “koordinator”, sebutan lokal untuk pengumpul. Dua dari lima petak keramba dipadati kerapu hidup yang berseliweran. Sekitar 200 kilogram kerapu telah terkumpul sejak beberapa bulan lalu.

Imam Musyafa, kepala keramba, lekas turun ke perahu, dan sejenak mengamati ikan di palka La Udi. Dengan jaring, hanya empat kerapu dipindahkan Imam ke timbangan, lalu masuk ke satu keramba kosong. Dua kerapu di palka tidak terpilih, sebab bagi Imam, yang satu ukurannya terlalu kecil sementara satu lagi sudah sakit sejak dari perjalanan.

Hari itu, La Udi membawa uang Rp210 ribu dari total 3,5 kilogram tangkapan kerapu. Padahal, lima tahun lalu, ia bersama orang tuanya bisa dengan mudah mendapatkan 20 hingga 30 kilogram kerapu. “Sejak akhir 2008, kerapu yang ditangkap saat ini semakin jarang dan kecil ukurannya,” keluh La Udi.

“Semakin banyak yang mengincar ikan karang. Lebih parah lagi, di luar Tomia masih ada yang menggunakan bius dan bom,” La Udi menambahkan. Hari itu, sisa dua kerapu yang tidak terpilih oleh Imam akan dijualnya di pasar desa. Tangkapan lain berupa dua ikan kerapu akan ia bakar sendiri di rumah, “Ini untuk dihidangkan bersama kasoami,” katanya semringah. Kasoami adalah pengganti nasi khas lokal berbahan dasar ubi kayu yang dikukus dalam anyaman daun kelapa.

sumber : http://nationalgeographic.co.id/feature/2012/11/ironi-sajian-bahari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: