PEMANFAATAN AMPAS TEBU SEBAGAI BIOBRIKET

Image

 

Melonjaknya harga minyak dunia per Juli 2009 hingga menyentuh 73US$/barel merupakan persoalan yang dihadapi dunia beberapa tahun terakhir. Kenaikan tersebut diperkirakan akan terus berlanjut dikarenakan cadangan energi ini semakin menipis, sehingga ketersediaannya tinggal menunggu waktu. Persoalan lain dari penggunaan energi fosil ini adalah menjadi penyebab perubahan iklim dan pemanasan global. Energi fosil ini banyak menghasilkan gas yang dapat menyebabkan efek rumah kaca(kompas, 2009). Selain efek negatif yang dihasilkan dari energi fosil yaitu emisi gas hasil pembakaran berupa CO2 yang dapat menimbulakan efek rumah kaca dan naiknya temperatur di bumi secara tidak menentu.
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomer 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak Selain itu, adanya himbauan dari pemerintah dengan pemanfaatan energi hijau. Hal ini bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak bumi, sehingga permaslahan energi dapat sedikit teratasi. Ditambah penerbitan Instruksi presiden No 1 tahun 2006 tertanggaal 25 Januari 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel), sebagai energi alternatif.
Setiap aktivitas manusia tak luput dari hasil buangan atau sampah yang terus bertambah dengan seiring pertumbuhan penduduk. Baik sampah rumah tangga ataupun sampah industri. Perlu penanganan khusus agar tidak terjadi penimbunan. Sampah dapat dijadikan bahan alternatif dalam bentuk apapun sebagai salah satu upaya penanganan penimbunan sampah tersebut. Biomassa adalah bagian yang dapat didegradasi secara biologis dari produk, limbah dan residu pertanian, kehutanan, industri dan limbah rumah tangga Menurut Borman dan Ragland (1998), biomassa dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu biomassa kayu dan biomassa non kayu. Biomassa non kayu sering digunakan sebagai bahan bakar yaitu limbah pertanian seperti tebu, jerami, sekam padi, dll. Biobriket dapat dijadikan penanganan masalah sampah dan sebagai sumber alternatif. Telah terdapat beberapa penelitian mengenai pembakaran beberapa jenis biomassa yang dibuat dalam bentuk briket. Biobriket dapat dijadikan penanganan masalah sampah dan sebagai sumber alternatif.
 
1. KARAKTERISTIK AMPAS TEBU
Tebu (Saccharum officinarum) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra (Anonim, 2007e). Ampas tebu adalah hasil samping dari proses ekstraksi (pemerahan) cairan tebu. Ampas tebu banyak dihasilkan pabrik gula. Husin (2007) menambahkan, berdasarkan data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) ampas tebu yang dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu giling. Pembuangan ampas tebu tanpa pengolahan secara tepat akan mengakibatkan pencemaran yang berkepanjangan. Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. Menurut Husin (2007) hasil analisis serat bagas adalah seperti dalam Tabel 2. Berikut
 
 
Tabel 2. Komposisi kimia ampas tebu
Kandungan
Kadar (%)
Abu
Lignin
Selulosa
Sari
Pentosan
SiO2
3,82
22,09
37,65
1,81
27,97
3,01
 
Sebagai bahan bakar jumlah ampas dari stasiun gilingan adalah sekitar 30 % berat tebu dengan kadar air sekitar 50 %. Berdasarkan bahan kering, ampas tebu adalah terdiri dari unsur C (carbon) 47 %, H (Hydrogen) 6,5 %, O (Oxygen) 44 % dan Ash (abu) 2,5 %. Menurut rumus Pritzelwitz (Hugot, 1986) tiap kilogram ampas dengan kandungan gula sekitar 2,5 % akan memiliki kalor sebesar 1825 kkal. Nilai bakar tersebut akan meningkat dengan menurunnya kadar air dan gula dalam ampas. Pada umumnya, pabrik gula di Indonesia memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan bakar bagi pabrik yang bersangkutan, setelah ampas tebu tersebut mengalami pengeringan. Disamping untuk bahan bakar, ampas tebu juga banyak digunakan sebagai bahan baku pada industri kertas, particleboard, fibreboard, dan lain-lain (Indriani dan Sumiarsih, 1992). Kelebihan ampas Ampas mudah terbakar karena didalamnya terkandung air, gula, serat dan mikroba, sehingga bila tertumpuk akan terfermentasi dan melepaskan panas. Briket dari ampas tebu akan lebih terjamin sebab bersifat renewable (mudah diperbaharui).
 
2. BIOBRIKET
Biobriket merupakan sumber alternatif yang berupa bahan bakar padat, bahannya berasal dari biomassa, contohnya: ampas tebu, sekam padi, jerami, dll. Dengan pemanfaatan menjadi biobriket maka produk biobriket yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan energi alternatif pengganti briket batu bara diketahui berasal dari sumber alam yang tidak dapat diperbaharui (Subroto,2006), baik pada skala rumah tangga ataupun industri kecil. Dengan pemanfaatan ini, maka pemakaian bahan bakar yang selama ini dari sumber bahan bakar fosil yang bersifat tidak dapat diperbaharui dapat direduksi. Pemakaian batu bara menimbulkan masalah utama polusi yang bersifat merugikan, yaitu adanya emisi unsur belerang ke udara bebas (Boss,2004). Permasalahan ini dapat ditekan dengan penggunaan biobriket. Ampas mudah terbakar karena didalamnya terkandung air, gula, serat dan mikroba, sehingga bila tertumpuk akan terfermentasi dan melepaskan panas.
 
SUMBER : http://zaa-extraordinarygirl.blogspot.com/2012/06/pemanfaatan-ampas-tebu-sebagai.html
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s