Author Archive

Polusi Udara di Iran Tewaskan Empat Ribu Warga per Tahun

iran,tehranLanskap kota Tehran, Ibu Kota sekaligus kota terbesar di Iran. (Thinkstockphoto).

Menurut laporan resmi yang dirilis oleh departemen kesehatan Iran, Minggu (6/1) ini, polusi udara di Tehran telah menewaskan 4.460 orang. Ini merupakan pertanda betapa tingginya dosis karsinogen pada bahan bakar buatan dalam negeri.

Dalam pengumuman yang disiarkan di stasiun televisi pemerintah, Hassan Aqajani, penasehat menteri kesehatan Iran menyatakan, angka tersebut merupakan jumlah kematian dari periode Maret 2011.

Polusi udara merupakan derita yang terus menerus dihadapi oleh sekitar delapan juta penduduk Tehran. Tingginya tingkat polusi juga memaksa pemerintah menutup kota tersebut pada Sabtu (5/1) lalu. Ini merupakan kali kedua pemerintah menutup kota Tehran dalam sebulan terakhir.

“Dalam beberapa hari ini, jumlah pasien yang datang berobat ke rumah-rumah sakit di Tehran dengan keluhan jantung meningkat hingga 30 persen,” kata Aqajani.

Polusi di Tehran sendiri utamanya disebabkan oleh lalu-lintas yang sangat padat di kota yang berada di tengah-tengah dua buah gunung yang mengakibatkan asap polusi tak bisa bergerak ke mana-mana. Namun, kota-kota lain di Iran juga berkutat dengan masalah polusi udara, meski dalam kurun waktu tertentu.

Kondisi ini diperburuk oleh meningkatnya ketergantungan pada bahan bakar produksi dalam negeri yang berkualitas rendah dan lebih banyak menghasilkan polusi. Ini merupakan efek samping dari sanksi yang dijatuhkan oleh dunia Barat yang melarang ekspor minyak ke Iran.

Youssef Rashidi, Director of Air Quality Monitoring Services Tehran menyebutkan, karsinogen dalam bahan bakar minyak buatan Iran jauh lebih tinggi dibandingkan dengan standar internasional.

“Berdasarkan standar Euro 4, jumlah karsinogen di minyak harus di bawah satu persen. Tetapi kadar karsinogen di bahan bakar buatan domestik mencapai dua sampai tiga persen,” kata Rashidi. “Level sulfur di bahan bakar minyak produksi dalam negeri juga tiga kali lebih tinggi dibanding standar,” ucapnya.

Menurut kementerian perminyakan, dalam sehari, Iran memproduksi sekitar 60 juta liter bahan-bakar minyak. Ini sesuai dengan tingkat konsumsi nasional yang sangat tinggi.

Pihak pemerintah sendiri telah berjanji untuk meningkatkan produksi bahan bakar berkualitas tinggi dengan standar Euro 4 dan 5 seperti yang biasa digunakan di negara-negara Eropa. Dari jumlah sembilan juta liter per hari menjadi sekitar 25 juta liter per hari pada Maret 2013 mendatang.
(Abiyu Pradipa. Sumber: Phys.Org)

 
 

Lempung Sebagai Bahan Baku Sel Surya dan Keramik Antibakteri

Lempung sangat menguntungkan dalam teknologi material karena murah dan ramah lingkungan.

lempung,tanah liatIlustrasi lempung. (Thinkstockphoto)

Mendapat pengakuan dari dunia internasional sejak tahun 2011 sebagai peneliti lempung Indonesia, Is Fatimah mengaku ingin terus berinovasi dengan lempung. Lewat penelitian terbarunya yakni lempung sebagai bahan baku sel surya serta keramik antibakteri, Is Fatimah berhasil membuktikkan bahwa lempung menjadi bahan yang multiguna.

Ketika ditemui di Universitas Islam Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (9/1), Is Fatimah banyak bercerita tentang manfaat lempung sebagai aplikasi bahan katalis industri. Selama ini lempung tidak banyak dimanfaatkan, padahal potensi di Indonesia sangat melimpah.

Kegunaan lempung di antaranya untuk penjernihan minyak, pengemban katalis, pengembang TI02 (semi konduktor), hingga mengolah limbah logam berat. “Di Indonesia potensinya melimpah atau bisa mencapai 150 juta ton, namun pemanfaatannya masih minim. Padahal di negara barat, sudah banyak digunakan sebagai bahan baku industri bahkan mereka  masih menggunakan yang sintesis,” kata Is Fatimah.

Lempung memiliki banyak sifat menguntungkan dalam teknologi material. Sifatnya yang berlapis-lapis membuat ukuran lapisan bisa berubah. Tak hanya itu, selain murah, bahan dari lempung ini ternyata ramah lingkungan.

Soal penelitian tentang lempung dan ekstrak kulit manggis sebagai bahan baku sel surya, saat ini tengah dalam uji laboratorium. Pasalnya efisiensi cahaya yang dihasilkan masih minim.

Dalam kaitannya dengan sel surya, lempung dimanfaatkan untuk menyangga semi konduktor yang dilapiskan pada titanium dioksida. Jenis lempung pun juga khusus yakni lempung montmorillorit.

“Selama ini belum pernah ada yang menggunakan lempung untuk bahan baku sel surya. Lempung ini untuk meminimalkan penggunaan kimia sintesis. Selain murah juga ramah lingkungan,” tambahnya.

Sedangkan kulit manggis digunakan karena zat warnanya bisa diekstrak dan dimanfaatkan dalam  eknologi Dye Sensitized Solar Cell. Sementara itu, kaitannya dengan peneltian keramik antibakteri, ia mengaku tengah dalam proses uji coba. Telah ada permintaan oleh Kemenristek untuk mengembangkan keramik ini di Indonesia.
(Olivia Lewi Pramesti)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/01/lempung-sebagai-bahan-baku-sel-surya-dan-keramik-antibakteri

50 Persen Makanan di Dunia Terbuang Percuma

Jumlah makanan yang terbuang ini sangat ironis jika dibandingkan dengan kelaparan yang melanda anak-anak di region Sahel, Afrika.

nasi,makanan indonesia,nasi bali,masakan
(thinkstockphoto).

Di saat satu miliar orang kelaparan di seluruh dunia, laporan terbaru yang dirilis oleh Institute of Mechanical Engineers (IME), London, Inggris, menyebut 30 hingga 50 persen makanan di jagat terbuang percuma.

Dalam laporan berjudul “Global food, waste not, want not” disebutkan beberapa alasan makanan terbuang percuma di negara-negara berkembang. Antara lain tidak efisiennya metode panen, penyimpanan yang buruk, dan sistem transportasi yang tidak memadai.

Secara keseluruhan, ini terjadi di negara-negara berkembang karena tidak mendukungnya infrastruktur. Dampaknya adalah setengah dari pangan yang diproduksi tidak sampai ke perut masyarakat.

Sedangkan di Eropa dan AS, makanan terbuang percuma karena perilaku penjual dan pembeli. “Penjualan secara berlebih dan promo diskon harga membuat pembeli membeli lebih dari yang sebenarnya mereka butuhkan dan tidak menghargai makanan,” ujar Sonia Gandiaga sebagai peneliti lingkungan yang merilis laporan ini, Kamis (10/1).

 

afrika,anak
Ilustrasi anak di Afrika. (Thinkstockphoto).

 

Jumlah makanan yang terbuang ini sangat ironis jika dibandingkan dengan kelaparan yang melanda anak-anak di region Sahel, Afrika. Badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, menyebut, pada Desember 2011, 1,1 juta anak kelaparan di Sahel dan butuh bantuan khusus.

Kelaparan menyebabkan dampak yang sama hancurnya dengan bencana alam. Kekurangan makanan ini juga yang bertanggung jawab atas kematian lebih dari sepertiga anak di negara-negara berkembang. Kelaparan menumpulkan kecerdasan, menurunkan produktivitas, dan melanggengkan kemiskinan.

Ditambahkan oleh IME, untuk mengantisipasi tambahan tiga miliar ledakan penduduk di masa mendatang, generasi saat ini harus mengurangi kebiasaan membuang makanan. “Kita berpotensi menyediakan 60 hingga 100 persen makanan lebih banyak dengan mengeleminasi (makanan) yang dibuang,” ujar Gandiaga.
(Zika Zakiya. Sumber: Mongabay, UNICEF ,http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/01/50-persen-makanan-di-dunia-terbuang-percuma)

 

Lima Pulau Teraneh di Dunia

Ada beberapa pantai di belahan bumi yang mengandung keanehan seperti mitos hantu atau pun dihuni fauna paling beracun di dunia.

pulau ular,brasilIlha da Queimada atau dijuluki Pulau Ular di Brasil. (Wikimedia Commons)

Indah dalam dekapan pasir putih menjadi wisata pantai idaman banyak orang. Tapi bagaimana jika pantai dambaan Anda ternyata menyimpan misteri atau menjadi rumah bagi makhluk paling beracun di dunia? Ada beberapa pantai di belahan bumi yang mengandung keanehan ini. Berikut lima di antaranya.

1. Pulau Para Boneka, Meksiko
Xochimilco merupakan nama distrik di Meksiko City yang terdiri dari sistem kanal dan pulau buatan yang kompleks. Salah satunya adalah milik Julian Santana Barrera.

Pasca menemukan jenazah perempuan muda, ia mengembangkan kebiasaan unik menggantung bagian tubuh boneka bekas di pohon sekitar kanal. Tujuannya untuk mengusir roh jahat. Ketika Barrera wafat pada tahun 2001, boneka-boneka tersebut dibiarkan dan pulau ini bisa dikunjungi menggunakan kapal.

2. Miyake-jima, Jepang
Miyake-jima terletak 180 kilometer selatan Tokyo dan didominasi Gunung Oyama –gunung api aktif yang kerap meletus. Sejak letusan pada tahun 2000, terjadi aliran gas sulfur yang beracun bagi manusia. Akibatnya, 3.000 warganya harus selalu menggunakan masker gas setiap saat.

3. Pulau Ular, Brasil
Ilha da Queimada, atau dijuluki Pulau Ular, terletak di lepas pantai Brasil. Julukan pulau ini sesuai dengan nama “penduduk” utamanya yaitu Golden Lancehead Vipers (Bothrops insularis). Ular ini merupakan salah satu yang paling beracun di dunia.

Menurut legenda setempat, setiap meter perseginya terdapat lima ular ini. Saat ini, Pemerintah Brasil melarang penduduk sipil mendiami pulau tersebut.

 

kucing,peliharaanIlustrasi kucing. (Thinkstockphoto)

 

4. Tashirojima, Japan
Pulau ini disebut juga Pulau Kucing mengingat penduduknya lebih banyak makhluk berkaki empat itu dibanding manusia. Pesatnya pertumbuhan kucing berkaitan dengan mitos setempat yang percaya memberi makan kucing akan mendatangkan kesehatan dan nasib baik.

5.  Norderoogsand, Jerman
Pulau ini terbentuk secara tiba-tiba di lepas pantai Jerman selama dekade terakhir. Meski baru, pulau ini sudah menjadi rumah bagi 50 spesies tumbuhan dan beberapa burung laut. Kemunculan pulau ini juga mengagetkan para peneliti.
(Zika Zakiya. Sumber: The Daily Telegraph Travel)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/01/lima-pulau-teraneh-di-dunia

Sulit Mencari Solusi Konflik Sawit

Konflik antara masyarakat dengan pengusaha sawit masih marak. Masih belum ditemukan titik tengah yang memuaskan kedua pihak.

sawit,minyakProduksi minyak kelapa sawit. (Thinkstockphoto)

Berdasarkan data dari Direktur Pascapanen dan Pembinaan Usaha Direktorat Jenderal Perkebunan pada Kementerian Pertanian, 59 persen dari 1.000 perusahaan kelapa sawit di Indonesia, terlibat konflik dengan masyarakat. Perselisihan terkait lahan yang terjadi di 23 provinsi dengan 591 kasus.

Direktur Eksekutif Sawit Watch Jefri Gideon Saragih menyebutkan, konflik terjadi karena masyarakat desa yang lahannya digunakan untuk perkebunan sawit, tidak mendapat ganti rugi sepadan. Janji sebagai mitra yang ditawarkan perusaahan sawit pun tidak terwujud.

“Bahkan di Indonesia Timur, ada lahan sawit yang dikonversi dari lahan pangan. Perusahaan juga tidak transparan dalam pembagian hasil,” papar Jefri dalam “Diskusi Akhir Tahun 2012: Antara Politik Pelestarian Hutan dan Bisnis Sawit,” di Jakarta, Kamis (20/12).

Sawit Watch hingga saat ini juga belum menemukan perusahaan yang benar-benar baik dalam ekspansi perkebunan. Namun, menurut Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono, konflik terjadi karena tidak adanya ketegasan dalam tata ruang kawasan hutan.

“Ketetapan lahan harusnya tegas diatur dalam tata ruang,” kata Joko yang juga mengeluhkan banyaknya perbedaan tata ruang dalam tiap level pemerintahan.

Menurut Mas Ahmad Santosa, Deputi IV Bidang Hukum UKP4, ada tiga akar utama masalah konflik lahan sawit dengan masyarakat. Pertama, ketidakjelasan status lahan dan kepemilikan. Kedua, ketimpangan struktur kepemilikan, penguasaan, dan peruntukan tanah. Ketiga, adanya kelemahan dalam tata kelola pemerintahan.

“Konflik lahan dan plasma terjadi dan semakin meluas seiring ekspansi usaha sawit yang berkembang pesat dan tidak diiringi kebijakan pengaman sosial yang memadai,” ujar Mas Achmad.

Hingga saat ini belum ditemukan win-win solution bagi pihak pengusaha sawit dan masyarakat setempat. Tapi dengan moratorium yang tepat, penertiban perizinan dan pemantauan, serta perbaikan tata ruang, akan ditemukan jalan tengah yang memuaskan kedua pihak.
(Zika Zakiya)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/sulit-mencari-solusi-konflik-sawit

Manusia Sebabkan Air Laut Bertambah Asin

Ketika bumi semakin panas, semakin banyak air yang menguap (evaporasi). Proses ini meninggalkan garam dengan konsentrasi tinggi.

laut,samudraIlustrasi laut (Thinkstockphoto)

Fenomena perubahan iklim sering dikaitkan dengan pencairan gletser dan es di laut, meningkatnya frekuensi gelombang panas, dan badai yang kuat. Ternyata bukan hanya hal itu saja, penelitian mengungkap perubahan iklim juga mempengaruhi peningkatan keasaman air laut.

Rasa asin atau salinitas pada air laut dikendalikan oleh berapa banyak air yang mengalir ke laut dari sungai dan juga hujan yang bercampur evaporasi. Peristiwa ini dikenal dengan siklus air.

Ketika perubahan iklim terjadi dan bumi semakin panas, maka matahari akan bersinar lebih banyak. Mengakibatkan semakin banyak air yang menguap (evaporasi). Proses evaporasi ini meninggalkan garam dengan konsentrasi tinggi di beberapa tempat.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan ini menyebar melalui pergerakan aliran air sehingga mengubah salinitas air laut. Ahli kelautan dari Scripps Institution of Oceanography dan Lawrence Livermore National Laboratory mengungkapkan, data sidik jari perubahan salinitas mulai dari tahun 1955 hingga 2004 dari 60 derajat lintang selatan hingga 60 derajat utara pada kedalaman 700 meter di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia.

Dalam penelitiannya mereka menemukan perubahan salinitas sesuai dengan perkiraan mereka, yaitu disebabkan oleh beberapa faktor alam yang terjadi secara alamiah seperti El Nino dan letusan gunung berapi.

Selanjutnya mereka mencoba membandingkan dengan 11.000 tahun data laut yang dihasilkan dari simulasi 20 model terbaru global. Ketika dibandingkan, mereka menemukan bahwa perubahan terlihat di lautan sesuai dengan dugaan mereka: manusia melawan iklim.

Terlebih lagi ketika mereka mengombinasikan dengan perubahan suhu salinitas, jejak manusia makin terlihat jelas. “Hasil ini menambah bukti bahwa manusia memaksa iklim terjadi dan telah mengubah iklim. Hal ini memiliki dampak mendalam bagi orang-orang di seluruh dunia dalam dekade mendatang,” ujar pernyataan ahli kelautan yang terlibat dalam penelitian.
(Umi Rasmi. Sumber: Discovery News)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/manusia-sebabkan-air-laut-bertambah-asin

Selisik Peran Perempuan dalam Ketahanan Pangan

Kaum hawa menentukan keputusan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, mulai dari hulu hingga hilir.

perempuan,pangan,kehatiPerempuan menentukan ketahanan pangan dan gizi dalam keluarga (Dok. Yayasan KEHATI)

Manusia yang telah mencapai angka populasi 7 miliar jiwa telah kami gaungkan sejak tahun lalu. Populasi yang bertambah sesak itu tentu menimbulkan masalah baru, salah satunya kebutuhan pangan. Indonesia, dengan angka populasi yang besar, tak lepas dari persoalan itu. 

Menurut Badan Pangan Dunia, sekitar 925 juta penduduk mengalami kekurangan gizi di seluruh dunia pada 2011. Negara kita (dengan jumlah penduduk sebanyak 241 juta jiwa – BPS, 2012) telah mengalami permintaan pangan bertambah dalam jumlah, mutu dan keragamannya.

Sementara itu, pertumbuhan kapasitas produksi pangan lokal telah menghadapi sejumlah hambatan, seperti alih fungsi lahan, dukungan infrastruktur pangan yang kurang memadai, regulasi yang kurang mendukung produksi pangan lokal, agroekosistem yang tidak sesuai, keberpihakan pada pangan impor, iklim usaha yang tidak kondusif dan perubahan iklim.

Dari populasi sebesar itu, ternyata angka penduduk perempuan mendominasi (sebanyak 51%). Itu sebabnya, perempuan berperan penting dalam berbagai bidang. Kita dapat ambil contoh, peran kaum hawa dalam ketahanan pangan, gizi dan kesehatan keluarga.

Di dalam bidang ini, seorang perempuan mengambil keputusan, misalnya memilih  bahan pangan, mengolahnya secara sehat, dan memilih kebutuhan rumah tangga yang ramah lingkungan. Oleh sebab itu, pengetahuan tentang bahan pangan sehat dan memenuhi kebutuhan gizi, cara pengolahannya dan kebutuhan rumah tangga yang ramah lingkunganmenjadi penting untuk dimiliki setiap perempuan Indonesia.

perempuan,pangan,kehatidok. Yayasan KEHATI

Peran perempuan itu terungkap dalam sebuah festival yang bertemakan “Perempuan dan Pangan”. Gelaran yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI pada Sabtu (22/12) itu membuka wawasan kita bagaimana perempuan belajar, mendengar, dan berdiskusi bersama para pakar dalam memilih dan mengolah bahan pangan lokal yang sehat juga tentang kebijakan pangan baik skala lokal maupun nasional.

Festival Perempuan dan Pangan ini diselenggarakan atas kerjasama Yayasan KEHATI, dengan Badan Ketahanan Pangan – Kementerian Pertanian, Dompet Dhuafa, Omar Niode Foundation, Jaringan Radio Suara Petani dan Nelayan (JRPS), Kalbe Farma, Tabloid Nova, Majalah Womens&Health, dan Unilever Indonesia.

MS.Sembiring, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI di dalam festival itu mengatakan,”Indonesia punya keragaman pangan sangat tinggi yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk bahan pangan.”

Ia melanjutkan, ”Perempuan merupakan kunci untuk pelestarian keragaman sumber pangan, dan kesehatan keluarga, di festival ini kaum perempuan dapat berbagi dan mendapatkan pengetahuan tentang bahan lokal, pengolahannya yang sehat dan memenuhi kebutuhan gizi, juga kebijakan tentang ketahanan pangan”

Pada festival ini beragam acara yang diadakan seperti pojok konsultasi: konsultasi kesehatan (kadar gula dan tekanan darah), pertanian sehat, pengolahan pangan lokal, dan makanan bayi sehat. Juga pengolahan sarapan sehat oleh Chef dari hotel bintang lima Jakarta.

Selain pojok konsultasi juga ada Sarasehan pangan dengan narasumber:  Nur Mahmudi Ismail (Walikota Depok), Gayatri Karyawati Rana (Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian), Rosalina Pulubuhu (PT. Kedai Balitaku), Ambarwati Esti Pertiwi (Roti & Kue Sehat “Arum Ayu”), Erna Cipta Fahmi (RS Rumah Sehat Terpadu – Dompet Dhuafa), Ida Farida (Pertanian Sehat Indonesia).

Melalui kegiatan seperti ini kita dapat terus mendukung peran perempuan terutama para Ibu untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Karena perempuan memiliki ikatan yang kuat dengan keanekaragaman hayati karena sebagian besar hidupnya melibatkan alam sekitar untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Mereka yang paling tahu akan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan mempunyai sifat alamiah untuk menjaga dan merawatnya. Perempuan seumur hidupnya secara alamiah telah mengembangkan pengetahuan untuk memperoleh kehidupan dari keanekaragaman hayati yang ada di lingkungannya. Selain itu perempuan berperan besar dalam mendidik generasi penerus untuk peduli dan mau merawat alam sekitarnya. 
(Warsono. Sumber: Yayasan KEHATI)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/selisik-peran-perempuan-dalam-ketahanan-pangan

Degradasi Lingkungan Dibalik Keuntungan Sawit

sawit,minyakIlustrasi sawit. (thinkstockphoto)

Minyak kelapa sawit adalah satu dari 14 minyak nabati yang dihasilkan Bumi. Sawit bahkan masuk sebagai empat besar minyak yang dikonsumsi manusia.

Pada 2010 lalu, minyak kelapa sawit menjadi market leader di bidang industrinya. Mencapai angka 27,5 persen konsumsi dunia, lebih tinggi dibanding minyak kedelai di angka 23,9 persen. Demikian dipaparkan oleh Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono, dalam “Diskusi Akhir Tahun 2012: Antara Politik Pelestarian Hutan dan Bisnis Sawit,” di Jakarta, Kamis (20/12).

“Secara keseluruhan, sawit hanya menghabiskan lima persen land use tapi bisa menghasilkan lebih dari 30 persen vegetable oil dunia,” ujar Joko.

Dalam sisi ekonomi, sawit menyumbang keuntungan US$1,4 miliar bagi Indonesia pada tahun 1997. Setahun kemudian, ekspor dari minyak sawit mentah meningkat, menghasilkan keuntungan US$745,2 juta. Masuk tahun 2002, keuntungan tersebut meningkat tajam menjadi US$2 miliar.

orangutan,evakuasi,kalimantanProses evakuasi orangutan di Dusun Parit Wa’dongka, Desa Wajok Hilir, Pontianak, Kalimantan Barat. Meski sempat membaik, kondisi orangutan ini memburuk dan akhirnya mati, Rabu (29/8). (SugengHendratno/WWF-Indonesia)

Namun, segala keuntungan sawit tercekal dengan negativitas di belakangnya. Ekspansi sawit di Sumatra dan Kalimantan memaksa keanekaragaman hayati untuk menyingkir. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) jadi salah satu contoh.

Populasi orangutan ini menurun sebanyak 50 persen dalam 60 tahun terakhir karena ekspansi perkebunan. Dalam beberapa kasus, orangutan ini dibunuh petani yang melindungi tanamannya.

Perkebunan sawit juga hanya bisa menampung spesies lebih sedikit dibanding hutan primer atau tanaman perkebunan lainnya. Penelitian pada tahun 2008 yang dikutip dalamDeforestation due to Palm Oil Plantations in Indonesia menyebut, rata-rata hanya 15 persen spesies dari hutan primer yang bisa hidup di kebun kelapa sawit.

Data dari Ditjen Planologi Kementerian Kehutanan menyebut, pada 2011, ekspansi sawit mencapai 8,3 juta hektare. Namun, organisasi bidang lingkungan, Sawit Watch, mencatat angka 11 juta hektare lebih. “Jika jumlah ini ditambahkan, hak kelola rakyat dan hutan bisa tidak ada lagi,” ujar Direktur Eksekutif Sawit Watch Jefri Gideon Saragih.

Ditambahkannya perlu ada revisi beberapa peraturan, salah satunya perpanjangan Moratorium Inpres No.10 tahun 2011 mengenai penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut.

“Permasalahan terbesar itu di moratorium dulu, kalau tidak di RTRW-nya (Rencana Tata Ruang Wilayah) atau di otonomi daerahnya dulu,” kata Jefri.

Izin dan konflik

kelapa sawitPerkebunan kelapa sawit (Thinkstockphoto)

Diakui Direktur Perencanaan Kawasan Kehutanan Kemenhut Basoeki Karyaatmadja, pihaknya sering menerima permohonan pelepasan lahan.

“Sekitar 70 persen surat masuk, minta pelepasan hutan untuk perkebunan.”

Salah satu prinsip pelepasan kawasan hutan adalah dapat dilakukan pada Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK). Dengan batas maksimal 100 ribu hektare untuk satu perusahaan yang diberikan secara bertahap.

Namun, timbul masalah ketika ada klaim lahan dari masyarakat setempat. Menurut Mas Ahmad Santosa, Deputi IV Bidang Hukum UKP4, ada tiga akar utama masalah konflik lahan sawit dengan masyarakat. Pertama, ketidakjelasan status lahan dan kepemilikan. Kedua, ketimpangan struktur kepemilikan, penguasaan, dan peruntukan tanah. Ketiga, adanya kelemahan dalam tata kelola pemerintahan.
(Zika Zakiya)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/keuntungan-sawit-dibayar-kerusakan-lingkungan

Cegah Defisit Lahan Pertanian, Moratorium Alih Fungsi Sawah Diusulkan

Defisit lahan terjadi akibat dampak alih fungsi lahan pertanian serta peningkatan kebutuhan pangan.

padi,ladang,berasIlustrasi sawah dan padi. (Thinkstockphoto)

Indonesia bisa terancam mengalami defisit lahan pertanian seluas 730.000 (0,73 juta) hektare pada 2015 mendatang.

Jumlah penduduk pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 255 juta jiwa. Dengan asumsi konsumsi beras per kapita adalah 135,1 kilogram per kapita/tahun, untuk memenuhi konsumsi akan dibutuhkan lahan tanaman padi 13,38 juta hektare. Namun saat itu hanya tersedia lahan 13,20 juta hektare.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan, saat ini defisit lahan terjadi akibat dampak alih fungsi lahan pertanian serta peningkatan kebutuhan pangan.

Maka Kementerian Pertanian akan mengusulkan kepada Presiden perlunya menerbitkan instruksi soal moratorium alih fungsi sawah, sebagai upaya pengendalian laju konversi lahan pangan.

“Selain moratorium itu, pemerintah juga tengah mengaudit sawah. Pelopor-pelopor tindakan yang militan dalam penyelamatan sawah juga diperlukan. Contohnya, kelompok tani dan kepala desa di Tuban, yang memberlakukan peraturan desa soal larangan alih fungsi sawah seluas 50 hektare,” ujar Gatot.

Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup Emil Salim menekankan, pemerintah hanya punya waktu setahun lagi untuk menjalankan rencana aksi, termasuk di tahun 2014 sudah akan masuk pada proses Pemilu Presiden. “Kalai tidak sekarang dimulai, tak ada waktu lagi,” tandasnya.

Baca: Pertanian Indonesia Hadapi Ancaman Krisis Pangan
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas)

sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/cegah-defisit-lahan-pertanian-moratorium-alih-fungsi-sawah-diusulkan

Tanaman Raksasa Terbesar dan Terbau Kembali Mekar

Tanaman ini jarang mekar, sangat sulit dibudidayakan, dan butuh waktu enam tahun untuk tumbuh besar

titan arum,amorphophallus titanumTitan arum (Amorphophallus titanum)

Ratusan pengunjung memadati sebuah kebun raya di kawasan tenggara Brasil untuk menyaksikan peristiwa langka, yakni mekarnya Titan arum, spesies tumbuhan tropis berukuran raksasa yang terbesar dan terbau di dunia.

Tanaman yang juga dikenal dengan “bunga bangkai” ini disebut demikian karena memiliki aroma yang serupa dengan daging busuk. Menurut Patricia Oliveira, seorang botanis yang bekerja di kebun raya Inhotim, sekitar 445 kilometer dari Rio de Janeiro, di mana tanaman tersebut dipelihara, ia mulai berkembang tepat pada hari Natal lalu dan kini sudah kembali menguncup.

“Tanaman ini mengembang selama 72 jam. Sepanjang waktu tersebut, ia akan mengeluarkan bau tak sedap untuk memancing datangnya lalat dan kumbang,” kata Oliveira.

Titan arum, yang punya nama ilmiah Amorphophllus titanum, yang memiliki arti penis raksasa berbentuk aneh, merupakan tanaman asli asal hutan hujan Sumatra barat. Yang membuat kejadian ini menjadi istimewa adalah karena tanaman ini jarang mekar, sangat sulit dibudidayakan, dan butuh waktu enam tahun untuk tumbuh besar.

Per Kamis (27/12) ini, spesimen Titan arum yang dimiliki kebun raya di Brasil ini telah tumbuh hingga memiliki ketinggian 167 sentimeter. Namun, ia masih berpeluang untuk tumbuh hingga ketinggian tiga meter. “Fenomena mekarnya bunga tersebut merupakan yang kedua. Ia pertamakali mekar pada Desember 2010,” kata Oliveira.

Saat ia mekar, tanaman ini memiliki suhu tubuh yang sama dengan suhu tubuh manusia sehingga membantu mempermudah penyebaran aroma baunya. Spesies ini sendiri pertama kali ditemukan oleh Odoardo Beccari, seorang ilmuwan Italia pada tahun 1878. Sepuluh tahun kemudian, spesies yang dibawa ke kebun raya di London berhasil mekar dan fenomena mekarnya tanaman tersebut baru terjadi kembali pada tahun 1926.

Banyak orang yang keliru membedakan antara Amorphophllus titanum dengan Patma raksasa atau Rafflesia arnoldii, spesies tanaman asli asal Bengkulu, yang pertamakali ditemukan tahun 1818. Kemungkinan, karena orang sudah mengenal Rafflesia sebagai bunga terbesar dan kemudian menjadi bias dengan ukuran Titan arum yang juga besar.
(Abiyu Pradipa. Sumber: Phys.Org)

 
 sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/tanaman-raksasa-terbesar-dan-terbau-kembali-mekar
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,265 other followers